Eksplorasi Etnokimia Pewarna Alami Tenun Ulos Batak Toba Dan Integrasinya Ke Pembelajaran Kimia SMA
DOI:
https://doi.org/10.31004/jpion.v5i2.1447Keywords:
natural dyes, ethnochemistry, batak toba ulos weaving, chemistry learningAbstract
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menjelaskan bahan pewarna alami dan proses pewarnaan kain tenun ulos serta pengintegrasiannya ke dalam pembelajaran kimia SMA. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan jenis penelitian eksplorasi. Subjek dalam penelitian ini yaitu perajin kain tenun ulos di Desa Hutatoruan I, buku, jurnal ilmiah, serta silabus kimia SMA Kurikulum Merdeka. Objek penelitiannya adalah pengetahuan perajin kain tenun ulos tentang bahan pewarna alami dan proses pewarnaan kain tenun ulos beserta proses kimianya, konten buku dan jurnal ilmiah berkaitan dengan kandungan kimia, rumus struktur, dan perannya dalam pewarna alami, serta capaian pembelajaran dan materi pokok Kurikulum Merdeka Kimia SMA. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Teknik pemeriksaan keabsahan data dilakukan dengan triangulasi data, kecukupan referensi, dan membercheck. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat lima jenis tumbuhan yang digunakan sebagai bahan pewarna alami dalam proses pewarnaan kain tenun ulos, diantaranya tanaman daun Strobilanthes cusia dimanfaatkan daunnya sebagai warna biru, kayu secang (Caesalpinia sappan) yang dimanfaatkan adalah serutan kayu bagian dalam sebagai warna merah, tanah yang dimanfaatkan sebagai warna hitam, biji pining (Areca Catechu) dimanfaatkan sebagai warna coklat muda dan jelawe (Terminalia bellirica) dimanfaatkan kulit buah jelawe sebagai warna kuning kecoklatan dan abu-abu. Proses pewarnaan kain tenun ulos yang dimulai dari persiapan bahan, pewarnaan, pengeringan, dan fiksasi melibatkan proses kimia yang dapat diintegrasikan ke dalam materi kimia SMA, pada pokok bahasan ilmu kimia dan peranannya, prinsip kimia hijau, sistem koloid, asam basa, faktor mempengaruhi laju reaksi, reaksi redoks, tata nama senyawa, ikatan kimia.
References
Adawiyah, D.R., Lioe, H.N., Anggreni, R. (2012). Isolation and characterization of the major natural dyestuff component of Brazilwood ( Caesalpinia sappan L .). International Food Research Journal, 19(2), 537–542.
Chanayath, N., Lhieochaiphant, S., & Phutrakul, S. (2002). Pigment extraction techniques from the leaves of Indigofera tinctoria Linn. and Baphicacanthus cusia Brem. and chemical structure analysis of their major components. CMU Journal, 1, 149–160.
Dapson, R.W., & Bain, C. L. (2015). Brazilwood, sappanwood, brazilin and the red dye brazilein: From textile dyeing and folk medicine to biological staining and musical instruments. Biotechnic and Histochemistry, 90(6), 401–423. https://doi.org/https://doi.org/10.3109/10520295.2015.1021381
Dewi, L., & Wirasuta, M. A. G. (2023). Studi literatur aktivitas antiinflamasi sebagai penyembuh luka tumbuhan obat terpilih berdasarkan ramuan usada tiwas panggung. Prosiding Workshop Dan Seminar Nasional Farmasi, 1, 36–49. https://doi.org/10.24843/wsnf.2022.v01.i01.p04
Fitri, Z. A., Siti, N., Ambarwati, S., & Jubaedah, L. (2020). Pemanfaatan ekstrak kental kulit batang secang (Caesalpinia sappan L.) sebagai zat pewarna pada sediaan blush on compact. Jurnal Tata Rias.
Holilullah, Afandi, A., & Novpriansyah, H. (2015). Karakteristik sifat fisik tanah pada lahan produksi rendah dan tinggi di PT Great Giant Pineapple. Jurnal Agrotek Tropika, 3(2), 278–282.
Holle, E., Yabansabra, Y. R., & Risal, Y. (2018). Ekstraksi dan karakterisasi tanin dari biji pinang hutan (Pinanga khulli) sebagai pewarna tekstil. AVOGADRO Jurnal Kimia, 2(1), 15–21. https://ejournal.uncen.ac.id/index.php/JA/article/view/889
Irianti, R. (2022). Etnobotani Areca catechu L. (pinang) suku Dayak Bakumpai Bantuil Kabupaten Barito Kuala berbentuk buku ilmiah populer. Jurnal Pendidikan Dan Ilmu Sosial, 1(4).
Lyu, Q., Daoruang, K., Sankaburanurak, A., & Apiwathnasorn, C. (2024). Research of the dyeing properties of lychee leaves and sappan wood extract on silk-linen fabric. Textile & Leather Review, June, 971–987. https://doi.org/https://doi.org/10.31881/TLR.2024.088
Maula, N. N., Mustika, R. A., Wahyuni, S., & Faizah, U. N. (2023). Potensi senyawa antioksidan yang terkandung dalam kayu secang (Caesalpinia sappan) untuk perawatan kulit alami. Journal of Biological Education and Science, 4(1), 41–49. https://doi.org/10.32939/symbiotic.v4i1.90
Meutia, Y. R., Susanti, I., & Siregar, N. C. (2019). Uji stabilitas warna hasil kopigmentasi asam tanat dan asam sinapat pada pigmen brazilin asal kayu secang (Caesalpinia sappan L.). Warta Industri Hasil Pertanian, 36(1), 30. https://doi.org/ 10.32765/wartaihp.v36i1.4504
Miles, M.B., Huberman, A.M. & Saldana, J. (2014). Qualitative data analysis: A methods sourcebook (3rd ed.). Sage Publications. Sage, London.
Nabillah, A.-Z., & Chatri, M. (2024). Peranan senyawa metabolit sekunder untuk pengendalian penyakit pada tanaman. Jurnal Pendidikan Tambusai, 8(1), 15900–15911.
Namirah, I., Affifah, I., Wijayanti, I. E., & Langitasari, I. (2019). Kajian terhadap tanaman pewarna alami pada masyarakat Baduy Luar. EduChemia (Jurnal Kimia Dan Pendidikan), 4(2), 204–212. https: //doi.org/10.30870/educhemia.v4i2.6150
Njatriani, R. (2018). Kearifan lokal dalam perspektif budaya. Gema Keadilan, 5, 16–31.
Nuryanti, S.; Matsjeh, S.; Anwar, C.; Raharjo, T. J. (2010). Indikator titrasi asam-basa dari ekstrak bunga sepatu (Hibiscus rosa sinensis L). Agritech, 30(3), 178–183.
Ola, P. D., Lapailaka, T., & Baun, D. N. (2024). Ekstrak air biji pinang (Areca catechu L.) sebagai pengompleks untuk analisis Fe(III) menggunakan metode pencitraan digital. Jurnal Kimia Sains Dan Aplikasi, 6(2), 98–108.
Priliyanti, A., Muderawan, I. W., & Maryam, S. (2021). Analisis kesulitan belajar siswa dalam mempelajari kimia kelas XI. Jurnal Pendidikan Kimia Undiksha, 5(1), 11–18. https://doi.org/10.23887/jjpk.v5i1.32402
Rahmi, F., & Efi, A. (2025). Kualitas tanah liek yang digunakan sebagai pewarna batik tanah liek di rumah batik salingka tabek Solok. Jurnal Manajemen Pendidikan Dan Ilmu Sosial, 6(2), 1090–1097.
Snively, G., & Corsiglia, J. (2001). Discovering indigenous science: Implications for science education. Science Education, 85(1), 6–34.
Sugiyono. (2013). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R & D.
Suja, I. W. (2010). Kearifan lokal sains asli Bali. Surabaya: Penerbit Paramita.
Thoriq, & Pramesthi, A. R. Y. (2024). Bioaktivitas, sintesis, dan pemanfaatan tanin: Tinjauan literatur. Variable Research Journal, 01(01), 73–85.
Widiantari, V. (2023). Eksplorasi dan integrasi pengetahuan etnokimia perajin kain tradisional Bebali Desa Seraya ke dalam pembelajaran kimia SMA. Skripsi. Universitas Pendidikan Ganesha.
Yupa, P., Sartika, A., & Fithri, A. (2025). Determination of tannin content in mangkokan leaves (Polyscias scutellaria (Burm.f.) Fosberg) and guava leaves (Psidium guajava L.) using UV-Vis spectrophotometry. Journal of Pharmaceutical and Sciences, 8(4), 3048–3057.
Zaky, M., Susanti, T. R., & Kuncoro, B. (2015). Pengembangan formulasi dan uji evaluasi fisik sediaan pewarna rambut ekstrak biji pinang (Areca catechu L.) sebagai pewarna alam. Farmagazine, 2(1), 35–43.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Dian Aditya Pasaribu, I Gusti Lanang Wiratma, I Nyoman Selamat

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.















